Tim TFCCA UTS Perkuat Sinergi dengan Masyarakat untuk Restorasi Terumbu Karang Berkelanjutan

Sumbawa, bidikankameranews.com — Keberhasilan restorasi terumbu karang tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi dan pendekatan ilmiah, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Berangkat dari prinsip tersebut, Tim Program Tropical Forest and Coral Conservation Act (TFCCA) Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), melaksanakan kegiatan sosialisasi dan konsultasi perlindungan lingkungan dan sosial (Environmental and Social Safeguards) bersama masyarakat pesisir di Dusun Nangalidam, Omo, Ai Bari, Bajo, Mekarsari, Mekarjaya dan Dusun Limung.
Kegiatan yang berlangsung selama Agustus hingga Oktober 2026 ini diawali dengan koordinasi bersama perangkat desa dan dusun, diskusi mengenai rencana pelaksanaan program, serta penyusunan jadwal sosialisasi. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi, menyelaraskan pemahaman, dan membuka ruang partisipasi masyarakat dalam mendukung program restorasi terumbu karang.
Dalam pelaksanaan program konservasi, safeguards memiliki peran strategis sebagai instrumen perlindungan lingkungan dan sosial yang memastikan setiap tahapan kegiatan dilaksanakan secara bertanggung jawab.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengidentifikasi dan meminimalkan potensi dampak negatif terhadap ekosistem maupun masyarakat, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat memperoleh informasi yang memadai, memiliki kesempatan menyampaikan aspirasi, serta dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan program.
Melalui sosialisasi ini, Tim TFCCA memperkenalkan prinsip-prinsip safeguards, mulai dari perlindungan ekosistem pesisir, keselamatan pelaksanaan kegiatan, penghormatan terhadap kepentingan masyarakat, hingga mekanisme penyampaian masukan dan pengaduan. Masyarakat juga diajak memahami bahwa perlindungan lingkungan bukan sekadar kewajiban administratif dalam sebuah program, melainkan tanggung jawab bersama yang perlu dijalankan secara konsisten.
Ke depan, penerapan safeguards diharapkan menjadi bagian dari tata kelola restorasi terumbu karang, mulai dari perencanaan, pelaksanaan penelitian dan intervensi di lapangan, hingga pemantauan serta evaluasi hasil kegiatan. Dengan demikian, setiap potensi risiko dapat diantisipasi sejak awal, sementara aspirasi masyarakat dapat menjadi pertimbangan dalam penyempurnaan program.
Sebagai institusi pendidikan dan penelitian, Universitas Teknologi Sumbawa memiliki peran strategis dalam menghadirkan pendekatan ilmiah dan inovasi teknologi untuk mendukung pemulihan ekosistem terumbu karang. Namun, keberhasilan penerapan hasil penelitian dalam jangka panjang juga membutuhkan dukungan pengetahuan lokal, pengalaman, dan keterlibatan masyarakat yang berinteraksi langsung dengan lingkungan pesisir.
Melalui program TFCCA UTS, universitas berupaya membangun hubungan kolaboratif dengan masyarakat, di mana perguruan tinggi berkontribusi melalui pengembangan pengetahuan, teknologi, dan pendampingan ilmiah, sedangkan masyarakat berperan sebagai mitra dalam memberikan informasi kondisi lingkungan, mengidentifikasi potensi ancaman, serta mendukung pengawasan dan pemeliharaan kawasan restorasi.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki (sense of ownership) terhadap kegiatan restorasi. Dengan adanya rasa memiliki, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem laut secara berkelanjutan.
Dalam pelaksanaan sosialisasi, masyarakat menunjukkan antusiasme melalui diskusi dan penyampaian berbagai masukan. Salah satu aspirasi yang muncul adalah kebutuhan dukungan sarana dan fasilitas untuk membantu kegiatan pemantauan serta pengawasan kawasan restorasi terumbu karang. Masukan tersebut menjadi perhatian Tim TFCCA UTS dalam mempertimbangkan penguatan mekanisme pemantauan partisipatif pada tahapan program berikutnya.
Kegiatan sosialisasi dan konsultasi safeguards juga menjadi sarana untuk membangun kesepahaman bahwa restorasi terumbu karang merupakan proses jangka panjang yang memerlukan kesinambungan antara intervensi ilmiah dan pengelolaan lingkungan oleh masyarakat.
Oleh karena itu, Tim TFCCA UTS mendorong keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pemantauan kegiatan, dengan tetap memperhatikan kapasitas, kebutuhan, dan kondisi sosial setempat. Keterlibatan ini diharapkan dapat memperkuat komunikasi, mencegah potensi konflik, meningkatkan transparansi, serta mendukung keberlanjutan manfaat program setelah kegiatan penelitian selesai dilaksanakan.
Melalui sinergi antara universitas, pemerintah desa dan dusun, serta masyarakat pesisir, penerapan safeguards diharapkan berkembang menjadi fondasi pengelolaan lingkungan yang partisipatif. Universitas berperan dalam menyediakan dasar ilmiah dan penguatan kapasitas, sementara masyarakat menjadi mitra penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem di wilayahnya.
Melalui kegiatan ini, Tim TFCCA FITH-UTS menegaskan bahwa restorasi terumbu karang bukan hanya tentang memulihkan ekosistem yang rusak, tetapi juga membangun kesadaran, rasa memiliki, dan tanggung jawab bersama. Dengan perlindungan lingkungan dan sosial yang terintegrasi serta keterlibatan aktif masyarakat, program restorasi diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir dan generasi mendatang. (*)
