MIRIS! Pencaker Lokal Menjerit Kelaparan di Kaki Tambang, Amman Mineral Malah Pesta Mewah Datangkan Artis Ibu Kota ” Kisah Pilu Dibalik Butiran Emas “
MIRIS! Pencaker Lokal Menjerit Kelaparan di Kaki Tambang, Amman Mineral Malah Pesta Mewah Datangkan Artis Ibu Kota ” Kisah Pilu Dibalik Butiran Emas “

TALIWANG, KSB, bidikancameranews.com –Isu ketimpangan sosial di sekitar wilayah operasional PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sering kali memicu gelombang protes dari pencari kerja dan mantan karyawan lokal. Narasi kontras mengenai kegiatan perusahaan dan kesejahteraan warga kerap mencuat sebagai cerminan dari persoalan penyerapan tenaga kerja serta dampak lingkungan di Kabupaten Sumbawa Barat
Kontras yang menyayat nurani terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat. Di saat ribuan pencari kerja (Pencaker) lokal menjerit frustasi karena sulit menembus pekerjaan di lingkar tambang, di dalam tembok PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) justru digelar pesta hiburan mewah mendatangkan artis Ibu Kota.
“Kami seperti penonton di rumah sendiri. Mengajukan lamaran dan mengikuti tes berulang kali rasanya sangat sulit untuk bisa diterima, seolah ada tembok tebal yang susah ditembus,” kata Ramdani, pencaker lokal asal Kecamatan Maluk, lingkar tambang, Kamis (22/10/2026) dengan nada pilu.
Bagi Ramdani dan ratusan pencaker lainnya, pemandangan pesta di Town Site, jantung ibukota tambang, menjadi pukulan telak. Di saat mereka pusing mencari sesuap nasi, perusahaan tambang emas dan tembaga raksasa itu justru menghamburkan anggaran fantastis untuk hiburan internal.
“Rasanya sangat melukai perasaan kami pak. Kami warga sekitar tambang yang masih dalam kesulitan. Nuraninya terguncang, seperti mengalami tekanan psikologis,” ungkapnya lirih.
Keluhan ini bukan fenomena baru. Isu kesenjangan peluang kerja di tanah sendiri seakan menjadi lagu lama yang tak pernah tuntas. Perayaan konser artis papan atas di dalam site dinilai tidak memiliki empati dan kepekaan sosial terhadap penderitaan warga lingkar tambang.
Fenomena ketimpangan ini pun kembali menjadi buah bibir di warung-warung kopi hingga media sosial di Sumbawa Barat. Banyak pemuda lokal mengaku terus-menerus disisihkan oleh proses seleksi rekrutmen yang dinilai tertutup dan kurang transparan.
Padahal, harapan besar digantungkan ribuan putra daerah agar keberadaan tambang berskala internasional itu dapat menyerap tenaga kerja lokal secara optimal untuk mendongkrak ekonomi keluarga.
“Masyarakat memandang perusahaan seolah lebih memprioritaskan kemewahan dan kesenangan segelintir elite ketimbang mengurai benang kusut masalah ketenagakerjaan warga lokal,” kritik Yudiansyah, pencaker asal Kecamatan Taliwang.
Padahal, persoalan penyerapan tenaga kerja lokal sudah memiliki payung hukum yang jelas. Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan dan prioritas tenaga kerja lokal sudah ada, namun implementasinya dinilai mandul.
Masyarakat mendesak agar PT Amman Mineral dan seluruh mitra subkontraktornya melakukan reformasi total sistem rekrutmen. Mulai dari transparansi kuota dan kriteria seleksi secara terbuka tanpa manipulasi, memberikan porsi khusus bagi warga asli lingkar tambang, hingga menggelar pelatihan bersertifikasi agar warga lokal mampu memenuhi kualifikasi teknis industri modern.
Para penggiat media sosial menegaskan, investasi triliunan rupiah seharusnya membawa dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat sekitar, bukan hanya menyisakan pesta dan hura-hura yang tak memberi nilai tambah bagi pengentasan pengangguran.
Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan DPRD KSB. Masyarakat mendesak Pemda tidak hanya menjadi penonton, tetapi hadir secara tegas memediasi dan mengawal ketat kebijakan rekrutmen di Amman Mineral dan seluruh jaringan vendornya.
Jika jeritan para pencari kerja ini tidak segera dijawab dengan solusi konkret, kekecewaan yang menumpuk dikhawatirkan akan menjadi bom waktu sosial yang dapat mengganggu harmonisasi antara investor raksasa dengan masyarakat pemilik tanah Batu Hijau. ( RED _ GJI )
