Janji PL Tak Jelas, Pembayaran Macet: PT AJP Diduga Peras Supplier Lunyuk, Pemprov NTB CUCI TANGAN ” Ancam Blokade Jalan Lunyuk – Lenangguar “

file_00000000b38482069eafbe887acc64e5
Spread the love

Janji PL Tak Jelas, Pembayaran Macet: PT AJP Diduga Peras Supplier Lunyuk, Pemprov NTB CUCI TANGAN ” Ancam Blokade Jalan Lunyuk – Lenangguar “

Mataram , bidikancameranews.com-
Persoalan tunggakan pembayaran supplier dalam proyek Long Segmen Lunyuk–Lenangguar kembali memanas. Sejumlah supplier asal Kecamatan Lunyuk yang mengaku telah ikut menopang kelancaran proyek kini mempertanyakan komitmen PT Amar Jaya Perkasa (AJP) dan Pemerintah Provinsi NTB dalam menyelesaikan kewajiban pembayaran mereka.

Ironisnya, ketika proyek yang menggunakan uang rakyat tersebut telah dikerjakan, para supplier yang mengaku memasok kebutuhan material dan operasional justru masih harus menunggu hak mereka.

Para supplier bahkan menilai PT AJP terkesan lepas tangan dan tidak menunjukkan iktikad yang mereka harapkan untuk menyelesaikan tunggakan.

Proyek Long Segmen Lunyuk–Lenangguar diketahui memiliki nilai kontrak Rp19 miliar lebih yang bersumber dari APBD Provinsi NTB. Dalam perjalanannya, proyek tersebut sempat mengalami persoalan, bahkan disebut mengalami tiga kali adendum.

Kini, persoalan baru justru muncul di belakang proyek, siapa yang bertanggung jawab atas tunggakan kepada supplier?

Salah seorang supplier asal Kecamatan Lunyuk, Aditia, mengaku sudah kehilangan kesabaran. Ia mengatakan dirinya bersama supplier lainnya telah mengeluarkan modal untuk membantu memenuhi kebutuhan proyek, namun pembayaran yang menjadi hak mereka hingga kini belum kunjung diselesaikan.

“Kami sangat kecewa. Kami dipingpong ke sana kemari, tetapi tidak ada penyelesaian sama sekali. Kami tuntut hak kami untuk segera dibayarkan,” ujar Aditia kepada media, Sabtu 12 September 2026.

Menurutnya, para supplier selama ini telah menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran pekerjaan di lapangan. Namun setelah pekerjaan berjalan, mereka justru merasa ditinggalkan.

Aditia juga menyoroti adanya janji pekerjaan Pekerjaan Langsung (PL) yang disebut-sebut pernah ditawarkan sebagai jalan keluar persoalan tunggakan. Namun, menurut dia, pekerjaan PL tersebut hingga kini tidak jelas realisasinya.

“Kami sudah berusaha menjadi mitra atau supplier yang membantu mereka di lokasi proyek. Tetapi kami merasa dipermainkan. Kami mengeluarkan modal, membantu pekerjaan, tetapi pembayaran tidak jelas,” katanya.

Yang membuat para supplier semakin kecewa, kata Aditia, sebagian dari mereka harus menggunakan modal pribadi untuk memenuhi kebutuhan proyek.

Bahkan, ia mengaku ada supplier yang sampai harus menggadaikan aset demi memastikan kebutuhan pekerjaan tetap berjalan.

“Kami ini bukan pekerja rodi yang diperas dan hanya dibutuhkan tenaganya tanpa dibayar. Kami menggunakan modal sendiri. Bahkan ada yang harus menggadaikan aset untuk modal kerja demi membantu proyek ini sukses,” tegasnya.

Ia meminta Pemerintah Provinsi NTB tidak sekadar menjadi penonton dalam persoalan tersebut.

Menurutnya, proyek tersebut menggunakan APBD sehingga pemerintah harus memastikan persoalan yang muncul dalam pelaksanaannya tidak berujung pada kerugian masyarakat kecil.

“Jangan setelah proyek selesai, kami masyarakat kecil justru ditinggalkan. Kami juga punya hak. Kami sudah mengeluarkan modal dan mempertaruhkan semuanya untuk membantu proyek ini,” katanya.

Keluhan lebih keras disampaikan Herman, salah seorang supplier yang memasok BBM untuk kebutuhan proyek.

Herman mengaku berada dalam posisi tertekan karena pihak tempat ia mengambil BBM terus menagih pembayaran.

“Saya sudah beberapa kali didatangi dan dihubungi oleh orang tempat saya ambil BBM. Saya merasa malu dan tertekan,” ungkapnya.

Ia menegaskan persoalan tersebut bukan karena dirinya tidak mau membayar, tetapi karena pembayaran dari PT AJP yang menjadi sumber pelunasan belum diterimanya.

“Saya minta tanggung jawab PT AJP untuk selesaikan pembayaran kami. Jangan sampai kami dituding menggelapkan atau membawa lari uang, sementara kami belum dibayarkan oleh PT AJP,” tegas Herman.

Para supplier sebelumnya telah mendatangi Inspektorat Provinsi NTB untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.

Dalam pertemuan itu


Spread the love