Helena Bupu, 27 Tahun, Tantang Arus Lama dan Bawa Gagasan Baru untuk Desa Bopoma

IMG-20260910-WA0043
Spread the love

Helena Bupu, 27 Tahun, Tantang Arus Lama dan Bawa Gagasan Baru untuk Desa Bopoma

BAJAWA, BidikkanKamera – Usia 27 tahun tidak membuat Helena Bupu, S.Tr.T., memilih berdiri di pinggir arena. Perempuan muda asal Bopoma, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada, itu justru maju dalam kontestasi pemilihan Kepala Desa Bopoma dengan membawa gagasan tentang pemerintahan desa yang harmonis, santun, inklusif, transparan, dan tetap berakar pada budaya lokal.

Pencalonan Helena bukan sekadar keberanian seorang perempuan muda memasuki ruang politik desa. Lebih dari itu, langkahnya menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi generasi muda untuk ikut menentukan arah pembangunan di kampung sendiri.

“Saya adalah bagian dari generasi muda Bopoma. Karena itu, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan desa,” ujar Helena.

Bagi Helena, pembangunan desa tidak boleh hanya menjadi urusan pemerintah desa. Masyarakat harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan.

Karena itu, ia menawarkan model pemerintahan yang terbuka terhadap kritik, mau mendengar aspirasi dan mampu membangun komunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat.

Tidak Menjual Janji, Menawarkan Kerja Bersama

Helena menyadari usia muda bisa menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Generasi muda memiliki energi, gagasan dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Namun, pengalaman para orang tua dan tokoh masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan desa.

“Saya datang dengan semangat untuk membangun Bopoma secara bersama-sama. Saya tidak datang dengan janji bahwa saya mampu menyelesaikan semuanya seorang diri,” katanya.

Karena itu, Helena ingin memadukan energi generasi muda dengan pengalaman generasi sebelumnya. Ia menyatakan siap mendengarkan tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pendidik, petani, pelaku usaha, pemuda, perempuan, kelompok rentan dan seluruh warga Bopoma.

Perempuan Harus Menjadi Penggerak

Sebagai perempuan muda, Helena juga membawa pesan bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi dalam pembangunan desa.

Namun, ia tidak ingin pencalonannya diposisikan sebagai pertarungan antara perempuan dan laki-laki.

“Saya tidak ingin mengatakan bahwa karena saya perempuan muda maka saya lebih baik daripada yang lain. Setiap calon memiliki kelebihan dan kekurangan,” ujarnya.

Menurut Helena, pembangunan akan lebih kuat ketika laki-laki dan perempuan bekerja bersama dan saling melengkapi.

Pemberdayaan perempuan, katanya, juga tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan. Perempuan perlu mendapatkan akses terhadap keterampilan, peluang ekonomi, organisasi serta ruang untuk terlibat dalam pengambilan keputusan.

“Perempuan bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi juga dapat menjadi penggerak pembangunan,” katanya.

Bopoma yang Harmonis dan Inklusif

Helena menawarkan visi: “Terwujudnya Bopoma yang Harmonis, Santun, Inklusif melalui Pembangunan Berkelanjutan yang Transparan dan Berakar pada Budaya Luhur.”

Visi itu berangkat dari satu persoalan mendasar: bagaimana pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan persaudaraan dan identitas masyarakat.

Bagi Helena, harmoni berarti masyarakat tetap menjadi satu keluarga meskipun berbeda pandangan, pilihan maupun kepentingan.

Sikap santun menjadi dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintah desa, menurutnya, harus melayani dengan etika, menghargai perbedaan dan membuka ruang dialog.

Sementara prinsip inklusif berarti pembangunan tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu.

“Anak muda, perempuan, orang tua, kelompok rentan, masyarakat kurang mampu maupun seluruh kelompok masyarakat harus mendapatkan ruang untuk berpartisipasi dalam pembangunan,” jelasnya.

Transparansi sebagai Fondasi Kepercayaan

Transparansi pemerintahan desa menjadi salah satu agenda penting yang ditawarkan Helena.

Menurutnya, Dana Desa dan seluruh sumber daya desa merupakan amanah masyarakat. Karena itu, warga berhak mengetahui bagaimana program direncanakan, bagaimana anggaran digunakan dan apa hasil yang dicapai.

“Transparansi bukan berarti pemerintah harus takut dikritik. Justru dengan keterbukaan, pemerintah dan masyarakat dapat saling mengawasi, saling memperbaiki dan bersama-sama menjaga pembangunan desa,” ujarnya.

Helena juga tidak ingin membangun dukungan politik melalui janji yang sulit direalisasikan.

Jika sebuah program belum dapat dijalankan karena keterbatasan anggaran, ia memilih menyampaikannya secara terbuka kepada masyarakat, menentukan skala prioritas atau mencari dukungan dari pemerintah di tingkat yang lebih tinggi.

Baginya, kepercayaan masyarakat tidak dibangun melalui banyaknya janji, melainkan melalui keterbukaan dan konsistensi dalam bekerja.

Pemuda dan Perempuan sebagai Motor Pembangunan

Helena melihat pemuda sebagai kekuatan strategis bagi masa depan Bopoma.

Ia ingin membuka ruang bagi pemuda untuk mengembangkan kreativitas, organisasi, kewirausahaan, teknologi informasi, olahraga, pendidikan, ekonomi kreatif hingga kegiatan sosial dan budaya.

Perempuan pun, menurutnya, harus ditempatkan sebagai bagian aktif dalam pembangunan. Mereka tidak hanya menjadi penerima program, tetapi turut merancang, menjalankan dan mengevaluasi program yang menyangkut kehidupan masyarakat.

Menggerakkan Ekonomi dari Potensi Desa

Di bidang ekonomi, Helena ingin pembangunan bertumpu pada potensi yang telah dimiliki masyarakat.

Pertanian, peternakan, usaha rumah tangga, kerajinan dan perdagangan menjadi sektor yang menurutnya perlu dipetakan dan dikembangkan.

Pengembangan ekonomi, kata dia, tidak cukup hanya melalui bantuan. Masyarakat membutuhkan pelatihan, pendampingan, penguatan kelembagaan ekonomi, akses pemasaran dan jejaring kerja sama.

“Bukan hanya memberi ikan, tetapi membantu masyarakat memiliki kemampuan untuk menangkap dan mengelola hasilnya,” ungkap Helena.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan ekonomi diharapkan tidak melahirkan ketergantungan pada bantuan, tetapi memperkuat kemampuan masyarakat untuk tumbuh secara mandiri.

Maju Mengikuti Zaman, Tetap Berakar pada Budaya

Bagi Helena, pembangunan tidak boleh membuat masyarakat tercerabut dari akar budayanya.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial, nilai adat, gotong royong, sopan santun, penghormatan kepada orang tua dan kebersamaan harus tetap menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bopoma.

“Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang membawa masyarakat maju tanpa membuat masyarakat lupa dari mana mereka berasal,” katanya.

Karena itu, pembangunan berkelanjutan yang ia tawarkan tidak hanya berbicara tentang apa yang dapat dibangun hari ini, tetapi juga tentang apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Berbeda Pilihan, Tetap Satu Keluarga

Menjelang pemilihan Kepala Desa Bopoma, Helena memberi perhatian khusus pada persoalan persaudaraan.

Ia menyadari setiap warga memiliki hak menentukan pilihan politik. Perbedaan pilihan merupakan bagian dari demokrasi dan tidak seharusnya berubah menjadi konflik sosial.

Jika mendapat kepercayaan masyarakat, Helena berkomitmen tidak membedakan warga berdasarkan pilihan politik.

“Setelah pemilihan selesai, tidak boleh ada lagi istilah ‘pendukung saya’ dan ‘bukan pendukung saya’. Yang ada adalah masyarakat Desa Bopoma,” tegasnya.

Ia juga menyatakan terbuka terhadap kritik. Kritik yang disampaikan dengan niat memperbaiki keadaan, menurutnya, harus dipandang sebagai bagian dari kontrol sekaligus bahan evaluasi bagi pemerintahan desa.

Bopoma sebagai Rumah Bersama

Pada akhirnya, harapan Helena sederhana: Bopoma menjadi desa yang masyarakatnya hidup rukun, saling menghormati, memiliki kesempatan berkembang dan memiliki pemerintahan yang dipercaya.

Ia ingin anak-anak Bopoma memiliki masa depan lebih baik, pemuda memperoleh ruang berkembang, perempuan mendapatkan kesempatan setara, serta petani dan pelaku usaha mampu meningkatkan kesejahteraan.

Helena menyadari perubahan tidak bisa terjadi dalam waktu singkat.

“Saya tidak bermimpi mengubah Bopoma dalam satu malam. Saya hanya ingin memulai sesuatu yang baik, mengerjakannya bersama masyarakat dan memastikan setiap langkah pembangunan memiliki manfaat bagi banyak orang,” ujarnya.

Pencalonan Helena sebagai perempuan berusia 27 tahun menjadi warna tersendiri dalam kontestasi politik desa di Bopoma. Namun, bagi dirinya, keberanian maju bukan semata-mata tentang usia, jenis kelamin ataupun kemenangan dalam pemilihan.

Lebih jauh, ia ingin menunjukkan bahwa generasi muda dapat mengambil bagian dalam menentukan masa depan desa tanpa harus memutus hubungan dengan pengalaman, budaya dan nilai-nilai yang diwariskan generasi sebelumnya.

Sebab, baginya, jabatan kepala desa pada akhirnya hanyalah sebuah amanah yang memiliki batas waktu.

“Jabatan hanya sementara, tetapi persaudaraan adalah warisan yang harus kita jaga bersama. Bopoma adalah rumah kita. Mari kita bangun bersama, dengan hati yang tulus, pikiran yang terbuka dan langkah yang berkelanjutan,” pungkas Helena Bupu. (karel)


Spread the love