Gocekan Merajalela di Mataram, Protes Mahasiswa dan LSM Tak Berdaya

IMG-20260417-WA0058
Spread the love

Gocekan Merajalela di Mataram, Protes Mahasiswa dan LSM Tak Berdaya

Mataram , bidikancameranews.com– Kota Mataram yang dikenal sebagai “Pulau Seribu Masjid” kini tercoreng oleh maraknya praktik judi sabung ayam atau gocekan. Aktivitas ilegal ini justru makin terang-terangan meski sudah menuai protes keras dari mahasiswa dan LSM, termasuk KNPI NTB, FP4 NTB serta kelompok masyarakat sipil lainnya.

*Protes Menggema, Tapi Tak Digubris,*
Dikutip dari halontb. com bahwa pada awal April 2026, KNPI NTB secara tegas menyoroti aktivitas gocekan di kawasan Karang Medain, Punie, dan Sindu di bawah wilayah Polresta Mataram. Ketua KNPI NTB, Daud Gerung, mengecam praktik ini karena melanggar hukum perjudian, menyiksa hewan, serta merusak tatanan sosial dan nilai agama masyarakat.

Tak berhenti di situ, pada 15 April 2026, puluhan massa LSM dan mahasiswa menggeruduk kantor bupati dan wali kota, lalu menggelar demonstrasi di Kantor Wali Kota Mataram mendesak penutupan kafe ilegal dan arena sabung ayam di wilayah kota Mataram

Namun alih-alih mereda, video-video gocekan kini justru diposting terbuka di media sosial, menandakan pembiaran yang nyata.

*Terang-Terangan di Media Sosial, Bukti Pembiaran Aparat*
Fenomena ini bukan hal baru. Sejak lama judi sabung ayam sudah marak di kota Mataram , bahkan diabadikan dalam video yang beredar luas di medsos, ini bertentangan dengan tagline “Kota Religi” Mataram.

Kini di 2026, aktivitas ini makin merajalela. FP4 NTB menuding adanya keterlibatan oknum aparat yang membiarkan praktik ini beroperasi berhari-hari, jauh melampaui tradisi keagamaan Hindu yang semestinya terbatas.

Penggerebekan sporadis seperti yang terekam di YouTube hanya menangkap sedikit pelaku tanpa ada efek jera , sementara yang lain lolos tunggang-langgang, meninggalkan kesan penegakan hukum yang setengah hati.

*Gocekan Bebas di Pulau Seribu Masjid: Moral dan Hukum Tercederai*
Menurut Direktur FP4 NTB Lalu Habib Julukan “Pulau Seribu Masjid” seharusnya menjadi benteng moral bagi NTB, tapi kini justru menjadi sindiran pedas atas bebasnya gocekan dan cafe ilegal. Protes mahasiswa dan LSM yang digemakan KNPI NTB, FP4 NTB dan IMPERIUM NTB menunjukkan keresahan publik yang mendalam.

Sayangnya, minimnya respons dari Polresta Mataram dan pemerintah daerah menimbulkan dugaan kuat adanya perlindungan oknum, merusak citra Kota Mataram sebagai pusat religi dan tatanan sosial yang harmonis.(ms)


Spread the love