Mahasiswa ISI Bali Gagas Lumbung Baca Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Sikka

file_000000008e7481f4929f656b2365288b
Spread the love

Mahasiswa ISI Bali Gagas Lumbung Baca Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Sikka


MAUMERE, Bidikan Kamera — Mahasiswa Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Antonio Frederich Jong, menggagas konsep “Lumbung Baca” sebagai salah satu model pengembangan literasi berbasis komunitas di Kabupaten Sikka.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Kamis, 24 September 2026, dalam rangka persiapan pelaksanaan program magang Antonio di instansi tersebut. Pertemuan itu juga membahas peluang kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi dan lembaga sosial masyarakat dalam mengembangkan ruang literasi di tengah masyarakat.

Antonio mengatakan, pemerintah daerah dapat memfasilitasi dan mendampingi pondok baca serta taman bermain yang berada di lingkungan masyarakat. Jika dilakukan secara terintegrasi, fasilitas-fasilitas tersebut dapat menjadi bagian dari sistem Lumbung Baca.

“Kalau pemerintah daerah atau dinas memfasilitasi dan mendampingi pondok baca dan taman bermain, maka pemerintah sebenarnya memiliki lumbung baca. Pemerintah menjadi stoknya, sementara masyarakat menjadi pengguna sekaligus bagian dari ekosistemnya,” demikian gagasan yang disampaikan dalam diskusi tersebut.

Konsep Lumbung Baca merupakan pengembangan makna lumbung yang selama ini dikenal sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian atau bahan pangan. Dalam konteks literasi, lumbung dimaknai sebagai tempat menyediakan “logistik untuk otak” berupa buku, pengetahuan, informasi, kreativitas dan sumber belajar bagi masyarakat.

“Lumbung bukan hanya tempat menyimpan makanan. Kita juga membutuhkan logistik untuk otak. Karena itu, sudah saatnya kita memiliki lumbung baca,” demikian gagasan tersebut.

Lumbung Baca tidak harus berupa gedung perpustakaan berukuran besar. Ruang literasi itu dapat dikembangkan dalam skala komunitas, seperti pondok baca, taman bermain, lingkungan permukiman, sekolah maupun ruang publik lainnya.

Konsep tersebut juga dapat mengangkat material lokal, bentuk arsitektur tradisional dan nilai-nilai budaya Sikka. Dengan pendekatan itu, ruang baca tidak hanya menjadi tempat membaca dan menyimpan buku, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya daerah kepada generasi muda.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menyambut baik gagasan tersebut. Ia mengatakan, pembangunan budaya literasi tidak cukup hanya mengandalkan gedung perpustakaan dan koleksi buku yang berada di pusat kota.

“Literasi harus hadir di tengah masyarakat. Kalau masyarakat harus selalu datang ke perpustakaan, maka jangkauannya terbatas. Tetapi kalau kita menghadirkan ruang baca di tengah komunitas, di dekat anak-anak, keluarga dan masyarakat, maka buku dan pengetahuan akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Very, konsep Lumbung Baca sejalan dengan upaya membangun ekosistem literasi di Kabupaten Sikka. Pemerintah dapat berperan dalam penyediaan koleksi, pendampingan dan fasilitasi, sementara perguruan tinggi memberikan dukungan keilmuan, desain dan inovasi.

Komunitas dan lembaga sosial masyarakat juga memiliki peran penting dalam pengelolaan dan penghidupan ruang literasi tersebut. Dalam konteks itu, terbuka peluang kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, ISI Bali serta lembaga sosial masyarakat seperti Yayasan Litania Kerahiman (YLK) Maumere. Arkadius Jong dari YLK Maumere turut hadir dalam pembicaraan tersebut.

Very mengatakan, kehadiran mahasiswa desain interior ISI Bali melalui program magang menjadi kesempatan untuk mempertemukan dunia akademik dengan kebutuhan nyata di daerah.

Mahasiswa dapat melihat langsung persoalan, potensi dan kebutuhan masyarakat, sementara pemerintah daerah memperoleh perspektif baru dari dunia akademik untuk mengembangkan layanan perpustakaan dan literasi yang lebih kreatif.

“Ini bukan sekadar soal membuat bangunan atau mendesain sebuah ruangan. Yang kita bangun adalah ruang tumbuh. Di dalamnya ada buku, ada anak-anak, ada keluarga, ada komunitas, ada pengetahuan dan ada nilai budaya,” kata Very.

Ia berharap gagasan Lumbung Baca dapat berkembang sebagai salah satu model penguatan literasi berbasis komunitas di Kabupaten Sikka.

“Kalau lumbung pangan menjaga persediaan makanan untuk kehidupan, maka Lumbung Baca kita harapkan menjadi tempat menyimpan dan mendistribusikan pengetahuan untuk kehidupan. Buku adalah logistik bagi pikiran, dan literasi adalah energi bagi masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan budaya membaca tidak selalu harus dimulai melalui pembangunan fasilitas berskala besar. Gerakan tersebut dapat dimulai dari ruang sederhana di tengah kampung, pondok baca, taman bermain yang dilengkapi buku, atau lumbung yang ditata dengan desain lokal dan dikelola bersama masyarakat.

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, kata Very, terus membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi, komunitas, lembaga sosial, sekolah, dunia usaha dan berbagai elemen masyarakat untuk menghadirkan gerakan literasi yang semakin dekat, inklusif dan relevan dengan kehidupan masyarakat.

Dari lumbung pangan menuju Lumbung Baca; dari menyimpan bahan makanan untuk tubuh menuju menyimpan dan membagikan pengetahuan untuk pikiran. Dari ruang baca, membangun ruang tumbuh bagi generasi Sikka. ( karel)


Spread the love