UPT Puskesmas Moyo Hilir Lakukan Upaya Cegah Anemia pada Remaja, Ini Langkahnya!

Spread the love

Oleh: Ita Hikmah Hidayati
Mahasiswa Magister Kebidanan Universitas Aisyiyiah Yogyakarta

sumbawa Besar, bidikankameranews.com – UPT Puskesmas Moyo Hilir, Sumbawa lakukan upaya serius untuk cegah anemia pada remaja. Anemia jadi masalah kesehatan yang sering dialami remaja, dan bisa berdampak ke produktivitas dan kualitas hidup. Anemia merupakan masalah gizi mikro yang masih banyak ditemukan pada kelompok remaja, terutama remaja putri.

Kondisi ini ditandai dengan kadar hemoglobin di bawah nilai normal (<12 g/dl) dan berdampak pada penurunan konsentrasi belajar, kebugaran fisik, serta perkembangan kognitif remaja.
Dalam jangka panjang, anemia pada remaja putri berpotensi menimbulkan dampak intergenerasional apabila remaja tersebut memasuki masa kehamilan dalam kondisi status gizi yang buruk.

Anemia defisiensi besi masih menjadi salah satu masalah gizi utama pada remaja di Indonesia dan berkontribusi terhadap penurunan kualitas kesehatan serta sumber daya manusia.

Remaja, khususnya remaja putri, merupakan kelompok yang sangat rentan mengalami anemia akibat peningkatan kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan pesat (growth spurt) dan kehilangan darah saat menstruasi.
Kondisi ini diperberat oleh pola konsumsi masyarakat Indonesia yang masih didominasi sumber pangan nabati dengan kandungan zat besi rendah dan bioavailabilitas yang terbatas.

Data survei kesehatan dasar di Indonesia (Riskesdas) menunjukkan angka anemia pada remaja putri meningkat dari 22,7% pada 2013 menjadi sekitar 32% pada 2018mengindikasikan anemia adalah masalah kesehatan masyarakat yang nyata di kalangan remaja.

Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk menanggulangi anemia remaja, antara lain melalui program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri, edukasi gizi seimbang, serta penguatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Namun, berbagai evaluasi program menunjukkan bahwa kepatuhan konsumsi TTD masih rendah, distribusi belum merata, serta edukasi gizi belum sepenuhnya mampu mendorong perubahan perilaku remaja.
Kasus anemia pada remaja ini tidak hanya menjadi masalah global, namun juga merambah hingga ke daerah-daerah.

Implementasi kebijakan pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja di UPT Puskesmas Moyo Hilir telah dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional melalui program Tablet Tambah Darah (TTD) remaja putri berbasis sekolah, dimana pelaksanaan program terintegrasi dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis (PKG). Dilakukan pada bulan November tahun 2025.
Kegiatan ini hanya dilakukan sekali dalam setahun. Lokasi kegiatan adalah di 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 3 sekolah menengah Atas (SMA) melalui pemeriksaan kesehatan gratis (PKG).

Dengan alur pemeriksaan, tujuh hari sebelum pemeriksaan tenaga kesehatan puskesmas berkoordinasi dengan sekolah pelaksanaan PKG, menyampaikan link kuesioner yang perlu di isi oleh orang tua/siswa, sekolah/guru memberikan informasi informed consent dan pemberitahuan kepada orang tua terkait skrining kesehatan dan pengisian data pribadi anak serta kuesioner dengan surat yang berisi link atau barcode yang berisi kuesioner skirining.
Skiring riwayat dan pengkajian/ pengisian skrining, tenaga kesehatan / guru melihat dari hasil isian kuesioner mandiri atau menanyakan: skrining TB, Gula, perilaku merokok, kesehatan jiwa, kebugaran, faktor resiko HepatitisB dan C, kespro dan riwayat talasemia. Lalu, skiring gizi, tekanan darah, anemia, hepatitis dan GDS, guru menimbang dan mengukur tinggi badan.
Tenaga kesehatan menghitung indeks masa tubuh, mengkur tekanan darah, pemeriksaan HB pada kelas 7 putra dan putri serta pada kelas 10 putri, pemeriksaan GDS, pemeriksaan Hepatitis B dengan RDT HbsAg dan hepatitis C dengan RDT Anti HCV jika terdapat resiko Hepatitis dan mencatat hasil pemeriksaan. Dan langkah akhir, tenaga kesehatan menyimpulkan hasil pemeriksaan dan memberikan edukasi, serta menindak lanjuti hasil sesuai temuan.
Tindak lanjut skrining di Puskesmas, jika ditemukan faktor resiko dan ditemukan hasil skrining perlu pemeriksaan lanjutan.

“Sebanyak 460 siswa dari 8 sekolah di wilayah kecamatan Moyo Hilir ditetapkan sebagai sasaran skrining di dalam program ini. Komposisi sasaran skrining meliputi 198 remaja putra kelas 7 serta 262 remaja putri yang terdiri dari 206 remaja putri kelas 7 dan 56 remaja putri kelas 10. Capaian skrining yang berhasil dilakukan adalah 100%.

Di dalam skrining tersebut didapatkan 172 orang remaja yang menderita anemia, atau sebanyak 37% dari jumlah total sasaran skrining. Dari 172 remaja dengan anemia tersebut, 30 orang (17%) diantaranya adalah remaja putra dan 142 orang (83%) remaja putri, terdiri dari 73 remaja putri kelas 7 dan 69 remaja putri kelas 10.
Diantara 198 remaja putra yang diskrining, yang menderita anemia adalah sebesar 15% dan di antara 262 remaja putri yang diskrining ada 54% yang menderita anemia.” ungkap penulis.

“Setelah dilakukan terapi berupa pemberian TTD selama 4 minggu, didapatkan penurunan jumlah remaja yang mengalami anemia, yaitu dari total 172 orang pada saat skrining menjadi tersisa sebesar 65 orang (37%) yang masih menderita anemia.
Berdasarkan jenis kelamin, dari 30 remaja putra dengan anemia saat skrining, tersisa 17 orang (56%) yang masih menderita anemia dan dari 142 remaja putri dengan anemia saat skrining, tersisa 48 orang (34%) yang masih menderia anemia.

Dari data tersebut didapatkan informasi bahwa, meskipun jumlah sasaran remaja putri hanya 1,3 kali lipat dari sasaran remaja putra, jumlah remaja putri yang menderita anemia lima kali lebih banyak dari remaja putra yang menderita anemia. Bahkan dari keseluruhan remaja putri yang menjadi sasaran skrining lebih dari setengahnya (54%) menderita anemia.
Hal ini menunjukkan bahwa remaja putri di dalam populasi tersebut cukup rentan untuk menderita anemia.” Imbuhnya.

Informasi yang cukup menarik pula setelah dilakukan terapi, sebagian besar remaja putri (66%) sudah terbebas dari anemia, dan menyisakan hanya 34% yang membutuhkan terapi lebih lanjut. Sebaliknya pada remaja putra dengan anemia, meskipun telah diberikan terapi selama 4 minggu masih tersisa lebih dari setengahnya yang masih menderita anemia.
Hal ini menjadi menarik, bila mempertimbangkan bahwa remaja putra tentunya tidak mengalami proses kehilangan darah secara fisiologis seperti menstruasi pada remaja putri.

Kepala UPT Puskesmas Moyo Hilir Hj. Diah Rosanty, S.Kep.Ns., M.Kep., Ns.SpKom sampaikan, “dengan langkah yang telah ditempuh, dengan cakupan skrining anemia sebesar 100% dari sasaran, hal ini menunjukkan komitmen yang baik dalam penerapan kebijakan di tingkat
pelayanan kesehatan primer oleh UPT Puskesmas Moyo Hilir. Begitu pun dari sisi manajemen pelayanan kesehatan, perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan kegiatan telah berjalan cukup baik melalui koordinasi antara Puskesmas dan sekolah. Alur pelayanan skrining, pemberian TTD, edukasi, dan tindak lanjut klinis telah dilaksanakan sesuai pedoman. Evaluasi hasil menunjukkan adanya penurunan jumlah remaja dengan anemia setelah pemberian terapi TTD, terutama pada kelompok anemia ringan. Harapannya, semoga melalui upaya ini remaja di Moyo Hilir bisa lebih sehat dan terhindar dari anemia.” tandasnya. (*)


Spread the love

Next Post

HUT Sumbawa ke-67, BAZNAS Distribusi  Zakat untuk 1000 Mustahik

Sel Jan 20 , 2026
Spread the love       Sumbawa, bidikankameranews.com – memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Sumbawa ke-67, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten […]