Nyawa Melayang di Antrian Pelabuhan Kayangan, Warga Pringgabaya Meninggal Usai Pingsan – Dermaga Kosong 1 Jam, Ekstra Trip Tidak Dijalankan, Ratusan Truk Mengular
Nyawa Melayang di Antrian Pelabuhan Kayangan, Warga Pringgabaya Meninggal Usai Pingsan – Dermaga Kosong 1 Jam, Ekstra Trip Tidak Dijalankan, Ratusan Truk Mengular
LOMBOK TIMUR, bidikancameranews.com – Kabar duka datang dari Pelabuhan Kayangan, Kabupaten Lombok Timur. Seorang penumpang asal Pringgabaya dilaporkan meninggal dunia usai pingsan saat mengantre untuk menyeberang dari Kayangan menuju Pototano, Rabu (04/11/2026). Peristiwa tragis ini viral setelah foto korban yang terbaring di atas brankar dengan wajah diperban beredar di media sosial Hai Lotim dengan caption “Penumpang Asal Pringgabaya Meningg4l Dunia Usai Pingsan Saat Mengantre di Pelabuhan Kayangan”.
Informasi yang dihimpun, korban pingsan saat berada di tengah antrian panjang yang mengular di dalam area pelabuhan. Kondisi pelabuhan yang panas, padat, dan minim tempat istirahat diduga memperburuk kondisi fisik korban. Petugas dan warga sekitar sempat memberikan pertolongan, namun nyawa korban tidak tertolong. Kejadian ini sontak memicu kemarahan dan keprihatinan warganet.
Tragedi ini dinilai bukan sekadar musibah, melainkan akibat dari terlalu kakunya pihak terkait dalam mengurai antrian panjang di Pelabuhan Kayangan. Sistem manajemen antrean yang kaku, lamban, dan tidak adaptif terhadap lonjakan penumpang membuat ribuan orang harus terjebak berjam-jam tanpa kepastian kapan bisa naik kapal. Kelalaian inilah yang berujung hilangnya nyawa.
Hasil investigasi langsung media pada Rabu (04/11) di Pelabuhan Kayangan menemukan fakta yang sangat ironis dan janggal. Di saat penumpang pingsan dan antrian mengular hingga keluar pelabuhan, terlihat beberapa dermaga justru mengalami kekosongan kapal hingga hampir 1 jam. Dermaga kosong melompong tanpa aktivitas bongkar muat, padahal di sisi lain ratusan kendaraan sudah berjam-jam menunggu.
Kekosongan dermaga selama 1 jam tersebut seharusnya bisa dihindari jika pihak Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) kayangan melalui unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia Dishub Provinsi NTB, Syahbandar dan ASDP menerapkan sistem ekstra trip. Sistem ini memungkinkan kapal yang sudah selesai bongkar di Pototano untuk segera kembali ke Kayangan tanpa harus menunggu jadwal kaku. Namun, opsi cepat tersebut tidak diambil, sehingga dermaga dibiarkan kosong sementara antrian semakin menggila. ” semua merasi diri hebat, merasa diri paling benar, padahal nalar tidak jalan dalam kondisi situasional ”
Di dalam area pelabuhan sendiri, pemandangan sangat memprihatinkan. Ratusan truk besar pengangkut logistik berjejer rapat memenuhi hampir seluruh kantong parkir pelabuhan. Truk-truk tersebut bercampur dengan bus umum, bus travel, dan mobil pribadi. Tidak ada pemisahan jalur yang jelas antara angkutan logistik dan angkutan penumpang, sehingga semua kendaraan menumpuk di satu titik.
Akibat penumpukan truk besar tersebut, bus umum yang membawa penumpang umum, lansia, anak-anak, dan ibu-ibu juga ikut terjebak berjam-jam tidak bergerak. Sopir dan penumpang terpaksa mematikan mesin, turun dari kendaraan, dan menunggu di bawah terik matahari. Kondisi inilah yang diduga membuat fisik penumpang asal Pringgabaya tersebut tidak kuat hingga akhirnya pingsan dan meninggal.
Sumber di lapangan menyebut, banyak sopir truk yang sudah mengantre sejak malam sebelumnya belum juga mendapat kepastian naik kapal pada siang harinya. Sementara kapal yang sandar hanya melakukan bongkar muat dengan kecepatan standar tanpa ada percepatan. Manajemen pelabuhan terkesan membiarkan antrian panjang terjadi tanpa solusi konkret di lapangan.
Peristiwa meninggalnya penumpang di antrian ini harus menjadi evaluasi total dan alarm keras bagi seluruh pengambil keputusan di Pelabuhan Kayangan, mulai dari ASDP Indonesia Ferry, KSOP, BPTD, hingga stakeholder terkait lainnya. Kinerja mereka dalam mengatur arus penyeberangan tersibuk di NTB ini dinilai gagal total dan tidak memiliki sense of crisis terhadap keselamatan penumpang.
Masyarakat mendesak agar tidak ada lagi korban jiwa kedua akibat buruknya manajemen pelabuhan. Tiga tuntutan mendesak harus segera dilakukan: pertama, aktifkan segera sistem ekstra trip saat terjadi penumpukan, jangan biarkan dermaga kosong 1 jam; kedua, pisahkan jalur dan jam keberangkatan truk logistik dengan mobil penumpang; ketiga, copot dan evaluasi pejabat pengambil keputusan di Pelabuhan Kayangan yang terbukti kaku dan lamban dalam mengurai antrian. ( TIM GJI )
