Yusuf Maula : PDIP Besar di Sumbawa Barat Karena Figur Dr. Ir. H. W. Musyafirin, Bukan Karena Kekuatan Mesin Partai

file_000000009acc8207ab83ca42ce19cf7d
Spread the love

Yusuf Maula : PDIP Besar di Sumbawa Barat Karena Figur Dr. Ir. H. W. Musyafirin, Bukan Karena Kekuatan Mesin Partai

TALIWANG , bidikancameranews.com – Sejarah perpolitikan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tidak bisa dilepaskan dari satu nama, Dr. Ir. H. W. Musyafirin, MM. Besarnya PDI Perjuangan di KSB hari ini bukanlah karena kuatnya struktur partai hingga ke akar rumput, melainkan karena efek ekor jas atau coattail effect dari figur Musyafirin itu sendiri. Hal ini dikatakan oleh Yusuf Maula mantan Kader PDIP dan juga Mantan anggot DPRD Sumbawa Barat dari Partai PDI Perjuangan kepada media pada minggu , ( 18 / 10 )

Yusuf melihat bahwa Fakta di lapangan menunjukkan, sebelum Musyafirin bergabung dan menjadi lokomotif, PDIP di KSB hanyalah partai papan tengah yang suaranya naik turun. Tidak ada basis ideologis yang mengakar kuat seperti di daerah lain di Indonesia. Rakyat KSB tidak memilih karena lambang banteng, mereka memilih karena figur.

” Musyafirin dengan pengalamannya sebagai birokrat murni dan dua periode Bupati Sumbawa Barat, berhasil membangun personal branding yang sangat kuat. Sosoknya yang merakyat, program-program populisnya, dan kedekatannya dengan masyarakat dari Taliwang hingga Sekongkang, adalah magnet utama. Suara PDIP adalah konversi langsung dari kepercayaan rakyat kepada Musyafirin ” kata ucok panggilan akrabnya Yusuf Maula.

Ucokpun membeberkan pembuktian pada saat Pemilu, Hal ini terbukti dari pola pemilihan legislatif. Caleg-caleg PDIP yang terangkat adalah mereka yang berada dalam gerbong dan lingkar kekuasaan Musyafirin. Ketika figur Musyafirin tidak turun langsung atau tidak memberikan endorsement, perolehan suara PDIP stagnan. Mesin partai tidak bekerja secara mandiri.

” Kader-kader PDIP di tingkat kecamatan dan desa pun mengakui, mereka lebih mudah menjual nama Musyafirin ketimbang menjual visi misi partai. Di mata masyarakat Sumbawa Barat, PDI Perjuangan identik dengan Musyafirin, dan Musyafirin adalah PDI Perjuangan. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan ” jelas Ucok

Oleh karena itu, klaim bahwa besarnya PDIP di KSB adalah karena kerja kolektif rakyat atau militansi kader adalah keliru. Realitasnya, partai hanya menumpang pada ketokohan seorang Musyafirin. Tanpa Musyafirin, PDIP di KSB akan kembali ke setelan awal sebagai partai kecil.

Kini pertanyaan besarnya adalah, setelah Musyafirin tidak lagi berada di tampuk kekuasaan eksekutif, mampukah PDIP mempertahankan kebesarannya? Jika tidak ada regenerasi figur sekuat Musyafirin, maka besar kemungkinan suara PDIP di Sumbawa Barat akan tergerus perlahan.

” Inilah pekerjaan rumah terbesar DPC PDIP Sumbawa Barat. Mereka harus sadar bahwa selama ini mereka besar bukan karena rakyat memilih partainya, tapi karena rakyat memilih Musyafirin yang kebetulan memakai baju PDIP. ” urai Ucok

Musyafirin Tak Pernah Melamar Komisaris Bank NTB Syariah, Diusulkan Lima Kabupaten/Kota Karena Kharisma dan Rekam Jejak Bersih

Ucokpun membuka tabir Isu terkait Dr H Musyafirin menjadi Komisaris Independen di Bank NTB Syariah, Kata Ucok bahwa  pengusulan Dr. Ir. H. W. Musyafirin, MM sebagai Komisaris Independen Bank NTB Syariah perlu diluruskan. Faktanya, beliau tidak pernah melamar atau mengajukan diri untuk jabatan tersebut. Justru sebaliknya, beliau diusulkan oleh lima kabupaten/kota di NTB karena dinilai sebagai figur yang paling layak.

” Lima daerah tersebut mengusulkan nama Musyafirin bukan tanpa alasan. Pertimbangan utamanya adalah rekam jejak beliau yang bersih dan tidak memiliki cacat hukum sedikit pun selama mengabdi puluhan tahun sebagai birokrat dan dua periode sebagai Bupati Sumbawa Barat. Hal ini menjadi syarat mutlak dan krusial untuk posisi Komisaris Independen di lembaga perbankan syariah. ” jelas Ucok

Menurut Ucok, Kapasitas dan integritas Musyafirin sebagai mantan kepala daerah yang berhasil membawa KSB maju, dinilai sangat dibutuhkan untuk memperkuat tata kelola Bank NTB Syariah. Figur beliau yang berpengalaman dalam manajemen pemerintahan dan keuangan daerah menjadi nilai jual yang tidak dimiliki oleh calon lain.

Terkait status politiknya, Ucok mengatakan ini perlu ditegaskan bahwa Musyafirin adalah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), bukan pengurus partai. Posisi sebagai kader tidak melanggar aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjadi Komisaris Independen. Aturan melarang pengurus partai aktif, bukan kader. Sehingga secara regulasi, pencalonan beliau sangat clear dan tidak ada yang dilanggar.

Usulan dari lima kabupaten/kota ini sekaligus mematahkan narasi bahwa Musyafirin mencari-cari jabatan. Ini adalah bentuk kepercayaan dan penghargaan dari daerah-daerah di NTB terhadap ketokohan beliau. Tidak semua orang bisa diusulkan secara kolektif oleh lima kepala daerah jika tidak memiliki kharisma yang kuat.

Hal ini membuktikan bahwa kharisma dan pengaruh Musyafirin masih sangat besar di NTB. Kepercayaan yang diberikan ini adalah buah dari kerja keras dan integritas beliau selama ini, yang bersih dari persoalan hukum dan tetap dicintai oleh masyarakat serta para pemimpin daerah di NTB.  ( EDI )

 


Spread the love