Ketua MPC PP KSB Pertanyakan Kinerja BNNK KSB, Peredaran Narkoba semakin Masiv, ” Tangkap Satu Tumbuh Seribu “
Ketua MPC PP KSB Pertanyakan Kinerja BNNK KSB, Peredaran Narkoba semakin Masiv, ” Tangkap Satu Tumbuh Seribu “

Taliwang KSB, bidikankameranews.com –
Penyalahgunaan narkoba di Sumbawa Barat terus menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Hampir setiap hari dilakukan penangkapan, itupun yang ditangkap bandar – bandar kecil yang pemasok besarnya mana..?, dilihat dari prevalensi penyalahgunaan narkoba di Sumbawa Barat telah menyasar kalangan usia 15-64 tahun mencapai angka signifikan. Salah satu faktor utama yang memicu penyebaran ini adalah mudahnya akses terhadap narkoba, baik melalui jaringan pengedar skala besar maupun sekala kecil dan barang haram ini sangat mudah didapatkan, hal ini dikatakan oleh Gusti Lanang alias Joy Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Sumbawa Barat kepada media minggu ( 22 /02 )
Selain itu kata Joy panggilan akrabnya , bahwa kemajuan teknologi informasi telah membuka pintu baru bagi perdagangan narkoba melalui internet dan media sosial, yang sering kali sulit untuk dilacak dan dihentikan oleh pihak berwenang baik itu kepolisian maupun Pihak BNNK
” Faktor lain yang mendorong meluasnya penyalahgunaan narkoba adalah lemahnya pengawasan di lingkungan sosial, seperti keluarga dan sekolah. Banyak remaja yang terjebak dalam penyalahgunaan narkoba akibat pengaruh teman sebaya dan kurangnya dukungan emosional dari lingkungan terdekat mereka ” kata Joy
Joy juga menyebutkan bahwa remaja sering kali menjadi target utama sindikat narkoba karena mereka dianggap sebagai kelompok yang rentan dan mudah dipengaruhi . Selain itu, masalah sosial-ekonomi, seperti kemiskinan dan pengangguran, juga menjadi pendorong signifikan. Bagi sebagian orang, narkoba sering kali dianggap sebagai pelarian dari masalah hidup yang berat. Kondisi ini diperparah dengan minimnya akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan yang memadai , sehingga membuat masyarakat lebih rentan terhadap penyalahgunaan narkoba
Untuk mengatasi penyebaran narkoba yang semakin meluas, Joy menekankan diperlukan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Edukasi yang tepat, penegakan hukum yang tegas, serta rehabilitasi yang efektif harus menjadi prioritas dalam upaya memerangi masalah ini.
Peredaran narkoba di Sumbawa Barat yang semakin masif, terutama menyasar generasi muda, memang memicu urgensi evaluasi terhadap kinerja Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sumbawa Barat dan BNN secara keseluruhan.
Joy juga mempertanyakan keberadaan BNNK di Sumbawa Barat, Peredaran narkoba di Sumbawa Barat semakin memprihatinkan. Rumor tentang bandar, sindikat pengedar, dan pemakai narkoba, belakangan seolah menjadi hal yang lumrah di Sumbawa Barat ini.
Kondisi ini menjadi ironi dan melahirkan banyak spekulasi. Apalagi, karena hal ini terjadi di saat anggaran untuk Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Sumbawa Barat nilainya terus meningkat.
Bisnis narkoba di Sumbawa Barat, menurut sejumlah sumber, pola edar dan pasar yang belakangan ini kian marak sejak banyaknya pendatang dari berbagai yang keluar masuk untuk bekerja di Kabupaten Sumbawa Barat pada perusahaan tambang emas terbesar tersebut . Semenjak itu, bisnis ini perlahan seolah bertemu dengan momentum “normalisasinya”. Yang kemudian, rumor tentang bandar, sindikat pengedar, dan para pemakai narkoba, seolah menjadi hal yang lumrah di kota yang kecil ini. Dan rumor-rumor itu selalu menemukan buktinya lewat hasil satu-dua razia yang digelar oleh aparat.
Janggal sebab Anggaran Pemberantasan Terus Meningkat
Dari perspektif yang berbeda, sejumlah sumber mengatakan bahwa semenjak 10 tahun terakhir ini peredaran narkoba di Sumbawa Barat sebenarnya telah lebih mudah dipetakan karena telah mulai tersentralisasi. Sejak tahun itu pola edar sebagian besar narkoba secara alami sudah terkonsentrasi hanya di beberapa lokasi, yang menjadi titik edar narkoba secara masif dari bandar ke pengedar, lalu ke pemakai.
Di sisi lain BNNK Sumbawa Barat yang dibentuk 10 tahun lalu sebagai lembaga pemerintah untuk pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, hingga tahun 2026 anggarannya dikabarkan terus meningkat.
” anggaran yang meningkat namun tidak seiring dengan penurunan peredaran narkoba ini menghadirkan pertanyaan besar di masyarakat. Karena masyarakat mengetahui, bahwa keberhasilan pemberantasan dinilai bukan dicerminkan oleh kenaikan alokasi anggaran, melainkan oleh musnahnya narkoba dari wilayah hukum institusi yang bersangkutan ” kata Joy prihatin
Naiknya anggaran namun tak selaras dengan penurunan peredaran narkoba ini pun melahirkan banyak spekulasi di masyarakat.
Joy melihat sejauh ini pemberantasan narkoba oleh BNNK Sumbawa Barat belum maksimal karena belum melibatkan partisipasi aktif seluruh stakeholder atau pemangku kepentingan. Padahal Instruksi Presiden nomor 2 Tahun 2020 sudah sangat jelas menunjuk Rencana Aksi Nasional (RAN) dalam hal pemberantasan narkoba.
“Dalam hal pencegahan, sudah selayaknya dan waktunya pula BNN membuat inovasi baru, salah satunya membangun sinergisitas dengan dunia pendidikan dalam bentuk memasukkan kurikulum bahaya narkoba dalam materi pendidikan. Hal ini sangat penting sifatnya, mengingat sasaran terbesar pengguna narkoba pada anak-anak muda, agar kita bisa memutus mata rantai penyebarannya pada segmen ini,” kata Joy
Berdasarkan data terkini, berikut adalah beberapa poin yang menjadi dasar pertanyaan terhadap kinerja BNK dan situasi narkoba:
Peningkatan Prevalensi Penyalahgunaan: Data survei menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia meningkat menjadi 2,11% pada tahun 2025 (setara 4,15 juta penduduk), naik dari 1,72% pada tahun 2023. Bahkan, laporan menyebutkan 4,11 juta penduduk terpapar narkoba pada tahun 2025.
Kasus Didominasi Remaja: Kasus narkoba dilaporkan naik 57% di tahun 2025, dengan 50% pelakunya merupakan usia remaja. Hal ini menandakan upaya pencegahan di tingkat lokal (BNK) masih menghadapi tantangan besar.
Keterbatasan Sumber Daya BNNK Sumbawa Barat seringkali menghadapi keterbatasan personel, anggaran, dan fasilitas untuk mencakup wilayah
” Sindikat terus menggunakan teknologi dan teknik canggih, termasuk transaksi digital, untuk menghindari deteksi lokal ” kata Joy mantap
Secara keseluruhan, peningkatan peredaran yang masif menuntut BNK untuk lebih proaktif, khususnya dalam fungsi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M), selain hanya berfokus pada pemberantasan. ( EDI / GJI )
