Kemarau Panjang Menghantam Ende, Dinas Pertanian Pastikan Padi Aman

IMG-20260917-WA0006
Spread the love

Kemarau Panjang Menghantam Ende, Dinas Pertanian Pastikan Padi Aman

Lahan irigasi tetap menjadi penyangga produksi, sementara sawah tadah hujan dihentikan sementara karena krisis air.

ENDE, Bidikan Kamera – Kemarau panjang mulai menekan sektor pertanian Kabupaten Ende. Namun, Dinas Pertanian memastikan produksi padi di lahan yang masih mendapat pasokan irigasi tetap aman.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Gadir Dean, mengatakan tanaman padi yang saat ini berada pada fase vegetatif tidak lagi membutuhkan pasokan air sebesar pada fase awal pertumbuhan.

Karena itu, kemarau yang berlangsung panjang tidak serta-merta membuat tanaman padi di lahan irigasi mengalami penurunan produksi atau gagal panen.

“Tanaman padi yang telah memasuki fase vegetatif tidak membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar seperti pada fase awal pertumbuhan. Karena itu, kondisi kemarau saat ini tidak diperkirakan menyebabkan penurunan produksi maupun gagal panen pada lahan irigasi,” tandas Gadir saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/9/2026).

Menurut Gadir, kondisi tersebut merupakan hasil dari langkah antisipasi yang dilakukan sejak awal musim tanam.

Salah satunya dengan mendorong petani menggunakan varietas padi berumur genjah atau berumur pendek.

Strategi itu membuat tanaman bisa lebih cepat melewati fase pertumbuhan hingga mendekati masa panen sebelum tekanan kekeringan semakin berat.

“Sudah diantisipasi di awal musim tanam sehingga di saat musim kemarau padi sudah fase vegetatif sehingga tidak membutuhkan banyak air,” ujarnya.

Gadir menunjuk hamparan persawahan Mautenda, Kecamatan Wewaria, sebagai salah satu contoh.

Tanaman padi di wilayah tersebut, kata dia, dijadwalkan memasuki masa panen pada pekan depan.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada lahan pertanian yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan.

SAWAH TADAH HUJAN BERHENTI BERPRODUKSI

Lahan tadah hujan menjadi kawasan yang paling merasakan tekanan kemarau. Ketersediaan air yang minim membuat lahan tersebut saat ini tidak dimanfaatkan untuk penanaman padi.

“Lahan tanam padi yang terdampak kekeringan karena musim kemarau adalah lahan tadah hujan. Dan saat ini lahan tersebut tidak dimanfaatkan karena musim kemarau,” jelas Gadir.

Berbeda dengan lahan irigasi yang masih memperoleh pasokan air melalui jaringan pengairan, sawah tadah hujan sepenuhnya bergantung pada curah hujan.

Di tengah tekanan kemarau, sektor pertanian Ende juga masih harus berhadapan dengan persoalan lain: kerusakan jaringan irigasi akibat gempa Flores pada 15 Agustus 2026.

Gadir menyebut puluhan hektare lahan irigasi di sejumlah wilayah mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

Kerusakan tersebar di Kecamatan Kota Baru, Maurole, Wewaria, Detusoko, Kelimutu, Wolojita, Nangapanda, hingga Kecamatan Ende.

Meski mengalami kerusakan, Gadir memastikan kondisi tersebut belum sampai menimbulkan kerusakan fatal yang berdampak langsung terhadap tanaman padi.

Lahan irigasi yang terdampak gempa juga telah melalui proses verifikasi oleh pihak terkait.

Hasil verifikasi selanjutnya diserahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk ditindaklanjuti melalui perbaikan jaringan irigasi.

Menurut Gadir, pembagian kewenangan jaringan irigasi menjadi faktor penting dalam proses penanganan.

Jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi kewenangan Dinas PU, sedangkan jaringan irigasi tersier berada di bawah kewenangan Kementerian Pertanian.

MT II OKTOBER JADI TARUHAN

Bagi Dinas Pertanian Ende, percepatan perbaikan bukan sekadar persoalan infrastruktur.

Ada musim tanam kedua yang sudah menunggu.

Gadir berharap jaringan irigasi yang rusak akibat gempa segera diperbaiki agar tidak mengganggu musim tanam kedua yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.

“Kami berharap segera diperbaiki karena dikhawatirkan akan mengganggu musim tanam (MT) dua pada Oktober mendatang,” imbuhnya.

Dinas Pertanian pun berharap perbaikan jaringan irigasi dapat menjaga kesinambungan kegiatan pertanian pada musim tanam kedua.

Ketersediaan air harus dipastikan, terutama bagi lahan yang selama ini menjadi penopang produksi padi masyarakat.

“Kami pastikan, untuk lahan yang sudah teraliri jaringan irigasi yang baik, produksi padi tetap aman dan tidak terganggu meskipun kemarau berlangsung panjang. Kami sudah mengatur pembagian air secara terukur dan berkelanjutan agar kebutuhan tanaman padi di setiap fase pertumbuhan tetap terpenuhi,” tegas Gadir.(karel)


Spread the love