Perfektif Sosiologi Perubahan Iklim yang Tidak Menentu dan dampaknya Terhadap Panen Tani Lokal Sumbawa

Spread the love

Disusun Oleh: 
Asa alfa dekayanti
Anggi Dewan saputra
Kasdiyanto
Marlo sandi
Wiwin
(Mahasiswa UTS Program Studi Ilmu sosiologi)

Sumbawa Besar, bidikankameranews.com
Perubahan iklim merupakan isu global yang dampaknya semakin nyata hingga ke tingkat lokal. Di sektor pertanian, perubahan iklim menjadi ancaman serius karena secara langsung memengaruhi pola tanam, produktivitas lahan, dan keberlanjutan penghidupan petani.

Kabupaten Sumbawa, sebagai salah satu daerah agraris di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), turut merasakan dampak dari iklim yang semakin tidak menentu. Petani lokal di Sumbawa kini dihadapkan pada perubahan pola hujan, kemarau yang lebih panjang, serta meningkatnya suhu udara. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi hasil panen, tetapi juga mengubah struktur sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan.

Artikel ini membahas dampak perubahan iklim terhadap panen petani lokal di Kabupaten Sumbawa dengan mengombinasikan data global, nasional, daerah, serta pengalaman petani, dan dianalisis melalui perspektif sosiologi lingkungan.

Perubahan Iklim dalam Konteks Global dan Nasional

Secara global, laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar 1,1°C dibandingkan era pra-industri. Peningkatan suhu tersebut memicu perubahan pola cuaca ekstrem, seperti hujan yang tidak menentu, peningkatan frekuensi kekeringan, dan gelombang panas yang berkepanjangan (IPCC, 2023).

Di tingkat nasional, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya pergeseran musim hujan dan kemarau di Indonesia. Musim hujan cenderung datang lebih lambat, sementara musim kemarau berlangsung lebih panjang. Perubahan ini sangat berdampak pada sektor pertanian, khususnya di wilayah yang masih mengandalkan sistem tadah hujan seperti Nusa Tengara Barat, Kondisi Iklim Dan pertanian kab. Sumbawa di kenal sebagai wilayah dengan curah hujan relatif rendah di banding kan daerah Indonesia bagian barat.
Data BLOG Stasiun Klimatologi NTB. Menunjukan Bahwa Dalam Beberapa tahun terakhir terjadi penurunan intensitas hujan pada periode tertentu, kemarau yang semakin panjang, serta kecenderungan peningkatan suhu udara.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat bahwa komoditas utama seperti padi dan jagung di Kabupaten Sumbawa sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Ketidakpastian cuaca menyebabkan penurunan produktivitas lahan, peningkatan risiko gagal panen, serta kerugian ekonomi bagi petani kecil.

Dampak Perubahan Iklim Berdasarkan Pengalaman Petani Lokal

Hasil wawancara dengan petani lokal menunjukkan bahwa perubahan iklim dirasakan secara langsung dalam aktivitas pertanian sehari-hari. Petani menyampaikan bahwa pola musim yang dahulu relatif dapat diprediksi kini menjadi sulit ditebak. Akibatnya, penentuan waktu tanam menjadi penuh risiko.

Beberapa dampak utama yang dirasakan petani antara lain:
● Pola hujan yang tidak menentu
Hujan sering datang di luar musim atau dengan intensitas yang tidak stabil. Benih yang sudah ditanam kerap tidak tumbuh optimal atau mati akibat kekeringan maupun genangan air yang tiba-tiba. Kemarau panjang dan suburbs tinggi musim kemarau yang berkepanjangan Menyebabkan kekeringan air untuk irigasi dan menurunya kesuburan tanah. Kondisi ini memaksa petani menunda masa tanam dan mengganggu siklus pertanian.

● Gagal panen dan penurunan produksi
Petani jagung di Sumbawa mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir banyak lahan mengalami gagal panen akibat keterlambatan hujan dan kekeringan. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga petani dan meningkatkan kerentanan ekonomi.

Analisis dari Perspektif Sosiologi Lingkungan

Dalam perspektif sosiologi lingkungan, perubahan iklim tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam, tetapi sebagai hasil interaksi antara sistem sosial, ekonomi, dan ekologi. Dampak perubahan iklim bersifat tidak merata dan cenderung paling berat dirasakan oleh kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan sumber daya, seperti petani kecil di pedesaan.
Kerentanan Sosial dan Ketimpangan Lingkungan
Teori ketimpangan lingkungan (environmental inequality) menjelaskan bahwa kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan justru sering menanggung dampak terbesarnya.
Petani lokal di Kabupaten Sumbawa memiliki akses terbatas terhadap teknologi pertanian modern, sistem irigasi, serta informasi iklim. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap risiko perubahan iklim dibandingkan pelaku pertanian skala besar.

Erosi Pengetahuan Lokal Petani
Perubahan iklim juga mengganggu pengetahuan ekologis lokal yang selama ini menjadi dasar pengambilan keputusan petani. Tanda-tanda alam yang dahulu dijadikan acuan waktu tanam kini tidak lagi dapat diandalkan. Dalam sosiologi lingkungan, kondisi ini dipahami sebagai krisis adaptasi sosial, di mana pengetahuan tradisional belum diimbangi dengan dukungan pengetahuan ilmiah dan kebijakan yang memadai.

Dampak Sosial-Ekonomi dan Strategi Bertahan Hidup
Gagal panen dan penurunan hasil produksi mendorong petani melakukan berbagai strategi bertahan hidup, seperti mencari pekerjaan non-pertanian, migrasi sementara, atau mengurangi kebutuhan rumah tangga. Fenomena ini sejalan dengan konsep kerentanan mata pencaharian (livelihood vulnerability), dimana perubahan iklim memperlemah sumber penghidupan utama dan berpotensi mengubah struktur sosial pedesaan secara permanen.

Keadilan Lingkungan dan Peran Negara

Sosiologi lingkungan menekankan pentingnya keadilan lingkungan (environmental justice). Petani lokal di Sumbawa memiliki kontribusi yang sangat kecil terhadap emisi global, namun harus menanggung dampak perubahan iklim yang signifikan. Oleh karena itu, adaptasi perubahan iklim tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada petani, melainkan membutuhkan peran aktif negara melalui kebijakan adaptasi pertanian, penguatan sistem irigasi, penyediaan informasi iklim, dan pendampingan sosial yang berkelanjutan.

Penutup
Perubahan iklim yang tidak menentu telah menjadi tantangan nyata bagi petani lokal di Kabupaten Sumbawa. Perubahan pola hujan, kemarau panjang, dan peningkatan suhu secara langsung memengaruhi proses penanaman dan hasil panen. Ditinjau dari perspektif sosiologi lingkungan, dampak perubahan iklim tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga sosial dan struktural.
Tanpa upaya adaptasi yang adil dan berkelanjutan, perubahan iklim berpotensi memperdalam ketimpangan sosial dan melemahkan ketahanan masyarakat pedesaan.

Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan pemerintah, pengetahuan ilmiah, dan pengalaman lokal petani menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Kabupaten Sumbawa. (*)


Spread the love

Next Post

Rutinitas Petugas Satlantas Polres Sumbawa dalam Memberikan Pelayanan Prima kepada Masyarakat di Ruang Pelayanan SIM

Rab Jan 14 , 2026
Spread the love       Sumbawa Besar, bidikankameranews.com – Salah satunya ruang pelayanan Satlantas Polres Sumbawa yakni ruang Satpas pelayanan pemohon Surat […]