Pelatihan Transplantasi Lamun Metode TERFs: Langkah Nyata Penguatan Ekosistem Karbon Biru di Dusun Prajak, Teluk Saleh, Sumbawa

Ekosistem lamun merupakan salah satu komponen penting ekosistem pesisir yang memiliki fungsi ekologis dan sosial-ekonomi strategis. Selain menjadi habitat, tempat mencari makan, dan daerah pembesaran berbagai biota laut, lamun juga berperan dalam menyerap serta menyimpan karbon dalam biomassa dan sedimen.
Karena itu, perlindungan dan rehabilitasi lamun menjadi bagian penting dalam pengelolaan ekosistem karbon biru sekaligus mendukung ketahanan pesisir terhadap perubahan lingkungan.
Dalam konteks tersebut, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Direktorat Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh tim Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang terdiri dari dosen Muh. Fahruddin, Abdul Azis, dan Adi Suriyadin serta sejumlah mahasiswa diantaranya Diso Rahmat Jondani, Lukman Hakil, Bagas Anugerah Pratama, Moh Al Faridzi, dan Sumiati pada tahun 2026. Kegiatan ini memperoleh pendanaan sebesar Rp 28.220.000 dan diarahkan pada pelatihan transplantasi lamun menggunakan metode TERFs (Transplanting Eelgrass Remotely with Frame System) sebagai dasar penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola ekosistem karbon biru di Dusun Prajak, Teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa.
Dusun Prajak dipandang memiliki potensi sumber daya pesisir yang dapat dikembangkan melalui pendekatan konservasi berbasis masyarakat. Namun, tekanan terhadap kawasan pesisir, perubahan kondisi habitat, aktivitas pemanfaatan sumber daya, dan rendahnya pengetahuan teknis mengenai rehabilitasi lamun dapat menjadi tantangan bagi keberlanjutan ekosistem. Oleh sebab itu, transfer pengetahuan dan keterampilan praktis kepada masyarakat menjadi langkah penting agar rehabilitasi tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi berkembang menjadi sistem pengelolaan yang berkelanjutan.
Metode TERFs diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan transplantasi lamun yang menggunakan kerangka atau media penahan untuk membantu mempertahankan rumpun lamun pada lokasi rehabilitasi. Melalui pelatihan, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai fungsi ekologis lamun, tetapi juga belajar mengenali kondisi habitat, memilih lokasi transplantasi, menyiapkan bahan dan peralatan, melakukan penanaman, serta memantau keberhasilan transplantasi.
Pendekatan praktik langsung di lapangan diharapkan mampu meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus membangun rasa memiliki terhadap sumber daya pesisir.
Lebih jauh, kegiatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam rehabilitasi dan pemantauan ekosistem lamun. Keterlibatan masyarakat penting karena keberhasilan rehabilitasi sangat dipengaruhi oleh pemeliharaan, pengawasan, dan keberlanjutan pengelolaan setelah kegiatan pengabdian berakhir.
Data hasil pemantauan juga dapat menjadi dasar ilmiah untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan transplantasi dan merumuskan strategi pengelolaan kawasan pesisir.
Pelatihan transplantasi lamun dengan metode TERFs di Dusun Prajak bukan sekadar kegiatan teknis penanaman, tetapi merupakan investasi pengetahuan untuk memperkuat pengelolaan ekosistem karbon biru berbasis masyarakat.
Sinergi antara DRTPM, Direktorat Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Teknologi Sumbawa, dan masyarakat Dusun Prajak diharapkan menjadi model kolaborasi yang dapat dikembangkan di kawasan pesisir lainnya di Kabupaten Sumbawa.
Dengan demikian, rehabilitasi lamun dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus mendukung perikanan berkelanjutan, perlindungan pesisir, dan penguatan agenda pembangunan rendah karbon di daerah. (*)
