Ironis..!, 81 Tahun Merdeka, 80 Warga Sikka Masih Angkut Air Sejauh 1 Km
Ironis..!, 81 Tahun Merdeka, 80 Warga Sikka Masih Angkut Air Sejauh 1 Km

MAUMERE, Bidikan Kamera – Bagi 80 warga Kampung Koo Jodho, Dusun Lenandareta, Desa Lenandareta, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, air minum bersih masih menjadi kebutuhan yang harus diperjuangkan setiap hari.
Sebanyak 22 kepala keluarga di RT 009/RW 004 harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer menuju sumber air, mengisi jerigen, kemudian memikulnya kembali ke rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi sebagian orang, satu kilometer mungkin bukan jarak yang jauh. Namun bagi warga Kampung Koo Jodho, jarak tersebut harus ditempuh berulang kali demi mendapatkan air yang mereka konsumsi sehari-hari.
Air belum mengalir dari keran di depan rumah.
Warga masih harus mendatangi sumber air, membawa jerigen, mengisinya, lalu kembali dengan beban air yang dipikul sendiri.
Kondisi tersebut disampaikan warga setempat, Longginus Nong, saat ditemui di Maumere, Minggu (20/9/2026).
“Di sini untuk mendapatkan air, warga harus berjalan kaki sepanjang 1 Km. Warga harus menggunakan jerigen untuk mengisi air minum agar bisa dikonsumsi di rumahnya,” ujar Nong.
Akses Jalan Juga Memprihatinkan
Persoalan warga tidak hanya terletak pada jauhnya sumber air.
Menurut Nong, kondisi jalan menuju sumber air juga sangat buruk. Medan yang harus dilalui warga membuat aktivitas mengambil air menjadi semakin berat.
Dengan kondisi tersebut, warga menghadapi dua persoalan sekaligus: sumber air yang berjarak sekitar satu kilometer dan akses jalan yang tidak memadai.
Setiap hari, kebutuhan paling dasar itu menuntut tenaga dan waktu warga.
Air yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar rumah tangga berubah menjadi pekerjaan harian yang harus dilakukan secara manual.
Beban itu terutama terasa ketika warga harus membawa air dalam jerigen dari sumber menuju rumah.
Bagi 22 keluarga atau sekitar 80 jiwa yang tinggal di wilayah tersebut, kondisi ini bukan persoalan sesaat. Mereka harus menjalaninya dalam keseharian.
Ketika Air Bersih Harus Diperjuangkan
Ketersediaan air minum bersih merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar masyarakat.
Karena itu, persoalan di Kampung Koo Jodho tidak semestinya berhenti sebagai keluhan warga.
Kondisi tersebut perlu dilihat secara langsung untuk mengetahui akar persoalannya. Apakah berkaitan dengan ketersediaan sumber air, jaringan perpipaan, kondisi geografis, akses jalan, pembiayaan, atau persoalan teknis lainnya.
Pemeriksaan langsung juga penting agar solusi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga.
Sebab, tanpa data dan kondisi lapangan yang jelas, persoalan air bersih berisiko terus berputar pada keluhan tanpa penyelesaian.
Sementara warga tetap harus berjalan.
Membawa jerigen.
Mengisi air.
Kemudian kembali ke rumah.
Warga Minta Pemerintah Turun Langsung
Warga Desa Lenandareta berharap Pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD Kabupaten Sikka tidak hanya mendengar persoalan tersebut dari laporan atau pemberitaan.
Mereka berharap pemerintah turun langsung melihat kondisi di lapangan, mendengarkan kebutuhan warga, dan mencari solusi agar akses air minum bersih dapat lebih mudah dijangkau.
Harapan itu sebenarnya sederhana.
Datang.
Lihat.
Dengarkan.
Kemudian bertindak sesuai persoalan yang ditemukan.
Kehadiran pemerintah dalam persoalan seperti ini bukan semata-mata soal pembangunan infrastruktur. Lebih dari itu, menyangkut bagaimana pelayanan dasar benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Ukuran pembangunan pada akhirnya tidak hanya terlihat dari besarnya anggaran atau banyaknya proyek yang dikerjakan.
Ada ukuran yang jauh lebih sederhana: apakah warga dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dengan mudah dan layak?
Di Kampung Koo Jodho, pertanyaan itu masih belum terjawab.
Puluhan tahun Indonesia merdeka, tetapi 22 keluarga dengan sekitar 80 jiwa masih harus berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk mendapatkan air minum.
Mereka masih memikul air dari sumber menuju rumah.
Bagi warga, air bersih bukan kemewahan.
Air adalah kebutuhan hidup.
Dan kebutuhan dasar itu kini menunggu perhatian serius pemerintah daerah. (karel)
