Frando Da Lopez Hibahkan Koleksi Buku Pribadi, Dorong Perpustakaan Jadi Ruang Hidup Literasi Sikka
Frando Da Lopez Hibahkan Koleksi Buku Pribadi, Dorong Perpustakaan Jadi Ruang Hidup Literasi Sikka

MAUMERE, Bidikan Kamera – Buku-buku yang selama bertahun-tahun tersimpan di rak pribadi Fransiskus Da Lopez kini dibuka untuk publik. Bukan dijual, bukan pula sekadar dipindahkan, tetapi dihibahkan agar pengetahuan di dalamnya dapat menjangkau lebih banyak pembaca di Kabupaten Sikka.
Mantan Camat Alok Timur yang juga pernah dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka itu menyerahkan koleksi buku pribadinya kepada Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda Kabupaten Sikka, Jumat (25/9/2026).
Penyerahan berlangsung di kediaman Frando Da Lopez di Jalan El Tari, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok Timur. Koleksi buku tersebut diterima langsung Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, didampingi Plt. Kepala Bidang Pengelolaan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan, Lina Bajo.
Bagi Frando, keputusan menghibahkan buku bukan sekadar soal memindahkan koleksi dari rumah ke perpustakaan. Ia ingin buku-buku tersebut memiliki kehidupan yang lebih panjang melalui tangan para pembaca.
“Buku-buku ini sebelumnya menjadi koleksi pribadi. Saya berpikir bahwa akan lebih bermanfaat apabila buku-buku ini dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh lebih banyak orang, terutama anak-anak muda, pelajar, mahasiswa dan masyarakat Sikka,” ujar Frando.
Niat tersebut, kata dia, sebenarnya telah muncul sejak beberapa tahun lalu, termasuk ketika kepemimpinan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka masih dipegang pejabat sebelumnya.
Namun, berbagai kesibukan dan situasi membuat rencana itu baru terealisasi pada Jumat, 25 September 2026.
Perpustakaan Jangan Berhenti sebagai Gudang Buku
Frando berharap hibah tersebut tidak berhenti pada penambahan jumlah koleksi perpustakaan. Menurutnya, buku hanya akan memiliki arti ketika dibaca, dipelajari dan melahirkan pengetahuan baru.
Ia mengingatkan bahwa perpustakaan tidak semestinya hanya menjadi tempat menyimpan atau meminjam buku. Perpustakaan harus menjadi ruang yang mendorong masyarakat untuk membuka wawasan, belajar dan mengembangkan gagasan.
“Saya berharap bantuan buku ini dapat memberi semangat kepada para petugas perpustakaan untuk semakin giat melakukan kegiatan literasi dan sains di Kabupaten Sikka. Buku akan menjadi lebih berarti ketika dibaca, dipelajari dan memberikan manfaat bagi orang lain,” katanya.
Pesan itu sekaligus menempatkan hibah buku sebagai bagian dari upaya yang lebih besar: membangun budaya membaca dan memperluas akses pengetahuan di tengah masyarakat.
Hibah Buku sebagai Gerakan Bersama
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menyambut baik langkah Frando tersebut.
Menurut Very, hibah buku merupakan bentuk konkret keterlibatan masyarakat dalam memperkuat gerakan literasi. Pemerintah, kata dia, tidak mungkin bekerja sendiri dalam membangun budaya membaca.
“Terima kasih kepada Bapak Frando Da Lopez. Hibah buku ini adalah bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap perpustakaan dan gerakan literasi di Kabupaten Sikka. Buku-buku ini tidak lagi hanya menjadi koleksi pribadi, tetapi kini dapat menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi masyarakat luas,” ujar Very.
Ia mengatakan setiap hibah buku memiliki arti penting karena memperkaya koleksi sekaligus memperluas pilihan bacaan yang tersedia bagi masyarakat.
“Literasi adalah gerakan bersama. Pemerintah menyiapkan ruang dan layanan, tetapi masyarakat juga dapat mengambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing. Salah satunya melalui hibah buku seperti yang dilakukan Bapak Frando hari ini,” katanya.
Very pun mengajak masyarakat Sikka yang memiliki koleksi buku dan tidak lagi digunakan secara pribadi untuk mempertimbangkan menyerahkannya kepada Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda.
Menurutnya, buku yang hanya tersimpan di rumah memiliki ruang manfaat yang terbatas. Sebaliknya, buku yang masuk ke perpustakaan dapat dibaca berulang kali oleh lebih banyak orang dan terus berpindah dari satu pembaca ke pembaca berikutnya.
“Buku yang tersimpan di rumah hanya dibaca oleh sedikit orang. Tetapi ketika buku itu masuk ke perpustakaan, manfaatnya bisa jauh lebih luas. Satu buku dapat dibaca oleh puluhan bahkan ratusan orang dan menjadi bagian dari perjalanan pengetahuan seseorang,” ungkapnya.
Dari Rak Pribadi ke Ruang Publik
Hibah koleksi buku Frando Da Lopez menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak selalu harus dimulai melalui program besar. Sebuah keputusan sederhana dari seorang pemilik buku dapat membuka akses pengetahuan bagi banyak orang.
Di tengah upaya Pemerintah Kabupaten Sikka memperkuat ekosistem literasi, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting yang tidak dapat diabaikan.
Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda pun ditantang untuk tidak berhenti sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku. Perpustakaan harus terus tumbuh sebagai ruang belajar bersama, tempat bertukar gagasan, ruang kreativitas dan tempat generasi Sikka membangun kecintaan terhadap pengetahuan.
Sebab, ketika sebuah buku keluar dari rak pribadi dan masuk ke perpustakaan, yang berpindah bukan hanya benda.
Pengetahuan ikut berpindah tangan—dari satu pembaca ke pembaca lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.(karel)
